Perjuangan seorang Hafidz Qur’an menjadi Pilot : Saya hampir gak percaya Allah SWT. dan niat berhenti Sholat

Said Farhan Khalik merupakan alumni Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an angkatan ke 7. Memulai belajar di pondok tahun 2013 dan dinyatakan lulus pada tahun 2017. Perjalanan ia menjadi pilot bukanlah hal yang mudah. Mengawali perjalanan mencari jati diri dengan mengikuti tes Akademi Angkatan Udara, dengan perjuangan yang tak henti ia melewati tahap demi tahap dengan baik, hingga pada tahapan tes terakhir atau biasanya disebut pantukhir ia dinyatakan gagal.

Said tidak percaya dengan kegagalan tersebut. Dirinya hancur berkeping-keping, bahkan ia berkata “Saya hampir gak percaya Allah SWT. Dengan penuh amarah, setelah hari pengumuman itu saya niat berhenti sholat, berhenti berdo’a”

Baginya buat apa berdo’a pada Allah swt tapi dia tak mendengar, padahal saat itu dalam keadaan bulan Ramadhan. Said pun berhenti salat tarawih. Tapi di hati kecil itu seolah-olah seperti ada bisikan bahwa Allah swt punya sesuatu yang terbaik buat kamu. Setelah 3 bulan ia mencoba berdamai dengan diri sendiri dan harus menerima kegagalan.

Namun ia tak patah semangat untuk mencoba mencari jati diri, ia medaftarkan diri untuk melakukan tes beasiswa jurusan kedokteran di Uin Syarif Hidayatullah Jakarta melauli jalur beasiswa kemitraan Uin Syarif Hidayatullah dan pemerintahan provinsi Kepri. Alhamdulillah ia dinyatakan lulus dan menjadi satu-satunya penerima beasiswa jurusan kedokteran.

Setelah 3 bulan menjalani Pendidikan Jurusan Kedokteran, ia merasa resah bahwa jiwanya tidak sesuai dengan jurusan tersebut. Setiap ia mengikhlaskan diri pada kedokteran pasti ada sesuatu seperti mimpi atau orang yang mengingat kan dirinya untuk menjadi pria berseragam, Akhirnya ia mencoba sholat istikharah 3 kali dalam waktu yang berbeda dan hasilnya Allah swt memberikan Said petunjuk yang sama yaitu menjadi pria berseragam.

Sebelum memutuskan keluar dari jurusan Kedokteran. Ia menelepon kedua orang tua untuk meminta izin, akan tetapi kedua orang tua tidak setuju dengan keputusanya. Namun ia tetap keras kepala dengan pendiriannya dan kabur dari kuliah lalu ikut pelatihan disatu institusi militer.

Sampai 1 bulan kemudian ayahnya menelepon dan mengatakan bahwa beliau sakit dan meminta ia untuk pulang ke rumah. ketika ia pulang orang tuanya benar-benar kecewa , ia sujud di kaki ayahnya sambil menangis dan berkata “Papa Said punya jalan dan punya cita-cita, Said tahu semua yang Said lakukan sebelumnya adalah kesalahan fatal makanya saat ini Said mohon ampun dan maaf yang setinggi-tinggi nya, Saya mohon keridhoan papa atas jalan yang said pilih”. momen itu membuat Said mengerti, setinggi apapun amalan yang kita bawa hanya ada satu amalan tertinggi yaitu ridho orang tua.

Said selalu mengingat peristiwa ini yang ia sebutkan sebagai “The way of God”. Ia mengaku salah pernah mengatakan Allah swt tidak sayang padanya. Allah swt bisa saja langsung meluluskan Said menjadi pilot, tapi Allah swt atur hingga Said tahu keagungan Allah swt. Bahwa sehebat apapun kamu berkehendak, tetap Allah SWT yang Maha Berkehendak, maka berserah lah diri kepada Allah swt dan orang tua adalah sebaik-baiknya perantara.

Akhirnya Said mengikuti pelatihan di kostrad buat persiapan tes Akademi Angkatan Udara di tahun berikutnya. Sambil latihan dan menunggu tes selanjutnya ia memberanikan diri untuk mendaftarkan sebagai pilot dan Alhamdulillah Said dinyatakan lulus. Ia meyakini bahwa segala sesuatu menjadi mudah dikarenakan ia tiada hari tanpa membaca Al-Qur’an. Bahwa apabila kita dekat dengan Al-Qur’an maka Al-Qur’an akan memudahkan seluruh hidup kita.

“Ya hampir ga nyangka bisa di sini, makanya kalau hamba ditanya kenapa mau jadi pilot tuh kadang jawabannya bingung, saya hanya yakin dan tahu this is the way of God, Allah swt meletakkan hamba di tempat ini karena Allah swt ingin hamba lebih dekat dengan beliau, inilah yang saya maksud semua baju itu cantik tapi belum tentu sesuai, UIN itu jelas keislamannya dibandingkan sekolah pilot, tapi saya justru merasa lebih dekat dengan Allah swt ketika hamba duduk menjadi pilot.” ujarnya

Said sekarang telah memasuki 130 jam penerbangan, ia telah menerbangkan pesawat-pesawat yang kecil seperti Cessna 172, “Kalau untuk dapat menerbangkan pesawat maskapai butuh 30 jam lagi.”ujarnya.

Pesan untuk adik – adik kelas dan teman-teman alumni yaitu rahasia Allah SWT tidak ada yang tau, Allah SWT bukan tidak mengabulkan do’a tapi Allah SWT memberikan sesuatu hikmah yang lebih baik.

Leave a reply "Perjuangan seorang Hafidz Qur’an menjadi Pilot : Saya hampir gak percaya Allah SWT. dan niat berhenti Sholat"

Author: 
author