CATAT Kalau Gak Mau Masuk Rumah Sakit, Stop Makan Mi Instan dengan Dua Bahan Tambahan ini, Efeknya Perlahan-lahan Bisa jadi Malapetaka

Bukan rahasia lagi kalau mi instan jadi pilihan banyak orang.

Rasa mi instan yang nikmat dan harganya yang murah tentu saja jadi pilihan banyak orang.

Apalagi cara membuat mi instan ini mudah banget dan tak memakan waktu yang lama.

Kita pun sekarang sudah dimanjakan dengan berbagai macam rasa dari mi instan.

Namun kita sudah ketahui bahwa makan mi bisa berakibat buruk untuk tubuh.

Eitss, tapi kita masih bisa mengkonsumsi mi instan sesekali dan konsumsinya dengan cara yang benar, kok.

Nah, bagaimana cara yang benar itu?

Salah satunya adalah menghindari konsumsi mi instan dengan 2 bahan tambahan ini.

Apa saja ya?

1. Makan Mi Instan dan Nasi

Sering makan mi instan dengan nasi?

Kebiasaan mencampurkan mi instan dengan nasi memang sering jadi kenikmatan tersendiri bagi beberapa orang

Apalagi bagi yang kurang nikmat jika makan tak pakai nasi.

Namun, kebiasaan ini sebaiknya harus kita hindari dari sekarang.

Karena pada dasarnya nasi dan mie instan sama-sama mengandung karbohidrat dan kalori yang tinggi.

Hal ini seperti yang dilansir TribunStyle dari Boldsky berikut.

Dalam satu porsi mie instan terkandung 400 kalori.

Jumlah itu sama dengan satu porsi nasi ukuran sedang.

Jadi jika satu porsi mie instan dan nasi maka terdapat banyak kalori yang masuk dalam tubuh.

Padahal rata-rata manusia membutuhkan 1200-1500 kalori per hari.

Selain itu makan mie instan yang dicampur dengan nasi juga bisa meningkatkan diabetes.

Perpaduan karbohidrat dari nasi dan mie instan dapat menaikkan indeks glikemik.

Sehingga gula dalam darah melonjak drastis dan menyebabkan diabetes.

Jika dilakukan sejak usia muda, kebiasaan ini akan membuat gula darah menumpuk hingga anak muda lebih rentah terkena diabetes.

Dengan begitu sebaiknya batasi makan mie instan bersamaan dengan nasi.

2. Mi Instan dengan Saus Botol Tak Bermerek

Bagi sebagian orang, makan mi instan tak lengkap kalau belum ditemani saus sambal botolan.

Rasanya, perpaduan saus sambal yang pedas dan asam itu sempurna banget ketemu mi instan yang gurih.

Makanya kalau di warkop, mi instan selalu disajikan dengan saus sambal.

Namun sayang, banyak warkop yang menggunakan saus sambal curah yang tak jelas bahan bakunya.

Saus sambal ini tentu saja jauh lebih murah harganya.

Sebenarnya, mengonsumsi saus sambal tentu boleh-boleh saja sebenarnya, asal kita yakin kalau saus yang kita telan adalah saus berkualitas baik.

Untuk itu, kenali dulu ciri-ciri saus sambal palsu yang pelan-pelan bisa membunuh Anda.

Yuk kita simak bersama-sama.

1. Saus sambal palsu biasanya lebih kental ketimbang saus sambal yang asli.

Saking kentalnya, biasanya kita harus menghentakkan botol tiap kali akan menggunakannya.

Sifat kental ini terjadi akibat penambahan pepaya muda ke dalam saus sambal palsu.

2. Saus sambal yang asli biasa terbuat dari cabai dan tomat.

Itu mengapa, warna saus yang wajar harusnya merah ke orange.

Sedangkan, yang palsu biasanya berwarna merah dan sangat mencolok.

3. Untuk rasa, saus sambal palsu terasa lebih ringan.

Itu sebabnya, banyak orang harus menggunakan saus sambal palsu dalam jumlah untuk mendapatkan rasa pedas dan asam yang diinginkan.

4. Melihat kemasan adalah cara paling mudah mengenali apakah saus sambal yang akan Anda konsumsi aman atau tidak.

Jika sudah tertera nomor register dari Badan Pengawasan Obat Dan Makanan (BPOM), maka saus tersebut sangat aman untuk kita konsumsi.

Namun sayangnya, banyak pedagang membeli saus sambal dalam bungkusan refill dan tinggal mengisinya berulang kali ke botol yang sama.

Jadinya, kita tidak bisa memastikan lagi apakah merek pada botol saus sambal sesuai dengan isinya.

Jika Anda penggemar saus sambal sejati, cara paling aman adalah membawa sendiri saus sambal dari rumah.

Memang agak repot, tapi tubuh akan lebih sehat dan pastinya terhindar dari aneka penyakit berbahaya.

Leave a reply "CATAT Kalau Gak Mau Masuk Rumah Sakit, Stop Makan Mi Instan dengan Dua Bahan Tambahan ini, Efeknya Perlahan-lahan Bisa jadi Malapetaka"

Author: 
author