Innalillahi, Ulama Wanita Mesir Ahli Al Quran Tunanetra Itu Meninggal Dunia

432 views

Umat Muslim di Mesir tengah berduka dengan kepergian seorang tokoh ulama wanita Mesir yang berpuluh-puluh tahun mengabdikan diri mengajarkan Alquran. Dia adalah Tanazur al-Najuli yang meninggal pada usia 97 tahun.

Dilansir Iqna.ir pada Selasa (12/1), selama 70 tahun, Tanazur al-Najuli mengabiskan hidupnya untuk mengajarkan Alquran kepada orang lain di Mesir.

Perjuangannya dalam mengajarkan Alquran mendapat respons baik masyarakat, dia pun mempunyai banyak murid dari seluruh penjuru Mesir. Para murid al Najuli pun akan datang kepadanya untuk belajar mengaji dan memperoleh ijazah mengaji.

Tanazur al-Najuli lahir di Provinsi Gharbia sebuah wilayah di Utara Mesir. Ia lahir pada 1924. Sejak usia dini, Tanazur sudah mempelajari Alquran.

Meski memiliki keterbatasan dalam penglihatan atau tunanetra, Tanazur berhasil menjadi seorang wanita Mesir yang menguasai keilmuan-keilmuan Alquran. Tanazur yang mempunyai enam anak itu telah berhasil mencetak banyak penghafal Alquran di Mesir.

Kepergiannya pun menjadi duka bagi Muslim Mesir termasuk Imam Al-Azhar, Syekh Ahmad Al-Thayyib. Ulama senior Al-Azhar itu pun memberikan pesan ucapan belasungkawanya atas meninggalnya Tanazur.

Mesir merupakan negara dengan penduduk sekitar 96 juta jiwa. Sekitar 90 pendudukan adalah Muslim.

Di negara itu, kegiatan berkaitan dengan Alquran menjadi sangat umum ditemukan. Banyak qari ternama dunia dari masa lalu hingga saat ini yang berasal dari Mesir. Wafatnya Ulama Adalah Musibah.

Kita semua mengakui bahwa wafatnya ulama adalah sebuah musibah bagi umat Islam. Karena ulama adalah pewaris Nabi. Wafatnya ulama berarti hilangnya pewaris Nabi.

Wafatnya ulama adalah musibah bahkan ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam dalam sabdanya :

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Sebagai musibah dalam agama yang diibaratkan oleh Nabi laksana bintang yang padam, wajar bila kita bersedih ditinggal wafat seorang ulama.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam sendiri menyatakan bahwa tidak bersedih dengan wafatnya ulama pertanda kemunafikan. Imam Al-Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi dalam Kitab Tanqih Al-Qaul mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik, munafik, munafik”.

Musibah ini akan dirasakan terutama oleh para pecinta ilmu, orang-orang yang peduli dengan warisan kenabian.

Seorang Tabi’in, perawi yang haditsnya tersebar di Kutubus Sittah, Imam Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah pernah berkata, sebagaimana dikutip Imam Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Awliya,

“Sesungguhnya aku diberitakan mengenai wafatnya seorang ahlus sunnah, seakan-akan aku kehilangan sebagian anggota tubuhku”.

Leave a reply "Innalillahi, Ulama Wanita Mesir Ahli Al Quran Tunanetra Itu Meninggal Dunia"

Author: 
author