Tidak Mampu Bayar Ambulans, Pemulung Ini Gendong Mayat Anaknya Hingga 10 KM

402 views

Hidup dalam kubangan miskin haruslah memerlukan kesengsaraan dan kesedihan tiada tara. Kondisi itu toilet Supriono, pemulung yang biasa mencari nafkah di sekitar Manggarai, Jakarta Selatan.

Belum lama ini, ia nyaris dituduh membunuh anaknya, Nur Hairunisa, tiga tahun, karena membawa jenazah putrinya itu hingga ke Stasiun Kereta Api Tebet, Jaksel.

Padahal ia merekomendasikan memakamkan anaknya di Bogor, Jawa Barat, dengan menumpang kereta rangkaian listrik (KRL) karena ketiadaan biaya untuk menyewa ambulans.

Peristiwa memilukan itu terjadi empat hari silam, tepatnya Ahad (5/6). Pagi itu sekitar pukul 07.00 WIB, putri tercinta Supriono, Nur Hairunisa, meninggal akibat muntah berak berak (muntaber) di dalam gerobak yang biasa dipakai untuk memulung.

Di gerobak itu jugalah Supriono tinggal bersama Nur dan putra sulungnya, Muriski Saleh. Ia biasa mangkal di depan Gereja Isa Almasih, Cikini, Jakarta Pusat.

Merasa tak memiliki uang untuk biaya pemakaman, Supriono tak berani menceritakan ihwal kematian putrinya ke warga sekitar. Lelaki berbadan kurus ini justru membawa mayat putrinya dengan gerobak ke Stasiun KA Tebet.

Supriono merekomendasikan memakamkan anaknya di daerah Kramat, Bogor, dengan menggunakan KRL. Di sana Supriono mempunyai teman yang diharapkan bisa membantu memakamkan putri bungsunya itu. Maksudnya langsung dibawa ke Bogor. Saya bawa pake gerobak, ”tutur Supriono kepada Rosianna Silalahi di Studio SCTV Jakarta, Kamis (9/8) petang.

Setiba di stasiun, Supriono yang lama ditinggal cerai istrinya itu lantas menggendong mayat putrinya. Jasad Nur saat itu hanya studio kain sarung dan kaus putih.

Tapi niatan Supriono ini gagal karena warga yang melihatnya curiga dan melaporkannya ke polisi. Sambil tetap menggendong jenazah Nur, Supriono pasrah ketika dibawa ke warga Markas Kepolisian Sektor Metro Tebet.

Empat jam Supriono pajak polisi. Ia ditanya seputar penyebab kematian anaknya. Sementara mayat sang putri dititipkan di pusat kesehatan masyarakat di dekat Mapolsektro Tebet. Ia sempat ngotot meminta polisi mempercepat proses pemeriksaan. “Saya sempet ngotot pada polisi. Saya pikir kasihan mayat anak saya,” aku Supriono, tersedu. Supriono akhirnya tetap mengikuti proses pemeriksaan.Untuk memastikan kematian putri Supriono, polisi membawa jenazah Nur dengan ambulan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakpus, untuk diotopsi. Di RSCM Supriono menolak proses otopsi. Rencana itu pun batal. Dari RSCM, Supriono tidak membawa anaknya dengan bajaj ke arah Manggarai, karena tidak punya uang untuk menyewa ambulan. Supriono membatalkan membawa mayat putrinya ke Bogor, karena saat itu hari itu sudah sakit. “Saya ke tempat kontrakan dulu di tempat Bu Sri,” tambah Supriono.

Setiba di rumah Sri di Manggarai Utara VI Rukun Tetangga 008 / Rukun Warga 01, Supriono akhirnya mendapat pertolongan. Semula Supriono meminta bantuan Sri untuk ongkos perjalanan ke Bogor, untuk memakamkan putrinya. Atas saran Sri, jasad gadis kecil tersebut akhirnya dikuburkan keesokan harinya di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo Blok A5, Casablanca, Jaksel. Semua biaya pemakaman Nur diperoleh dari warga yang bersimpati kepada Supriono. Peristiwa tragis Supriono ini mendapat perhatian besar untuk redaksi dan pembaca surat kabar Ibu Kota, Warta Kota.

Leave a reply "Tidak Mampu Bayar Ambulans, Pemulung Ini Gendong Mayat Anaknya Hingga 10 KM"

Author: 
author