Apakah benar Uang Suami Punya Istri dan Uang Istri Punya Istri?

462 views

Saat berlangsung pernikahan, karena itu tampil keharusan untuk suami dan istri. Salah satu perihal yang pantas diakui, pasangan suami istri harus sama-sama mempunyai.

Selain itu, ada keharusan untuk suami untuk memberikan nafkah istri dan anak-anaknya. Sesaat pada istri, harus patuh dan taat pada suaminya.

Tapi, kemungkinan kita pernah dengar arti ” uang suami punya istri, uang istri punya istri sendiri.” Arti ini terkait dengan hak atas penghasilan di antara suami dan istri.

Arti di atas mengandaikan semua penghasilan yang didapatkan suami dari bekerja atau berdagang ialah punya istri. Sesaat bila istri punyai penghasilan, karena itu hak punya dan gunakan atas uang itu seutuhnya ada di istri.

Lalu, benarkah pernyataan itu?

Kedudukan Wanita Sebelum Islam

Diambil dari NU Online, perlu sangkanya kita mengulas terlebih dahulu posisi wanita waktu Alquran di turunkan. Saat sebelum Islam, posisi wanita benar-benar rendah dan selalu ada dalam frame perbudakan.

Saat lahir sampai saat sebelum menikah, tanggung jawab seorang wanita ada di ayahnya. Hal tersebut adalah belenggu pada wanita.

Saat menikah, belenggu itu beralih dari ayahnya ke suaminya. Sebab di bawah kuasa ayah dan suaminya, karena itu wanita waktu itu dipandang tidak mempunyai hak atas harta bahkan juga pada hidupnya sendiri.

Islam Memberi Hak Pemilikan Pada Wanita

Saat Islam turun, wanita dibebaskan dari semua wujud belenggu. Islam kembalikan posisi wanita selaku manusia prima, dan memberi hak ke mereka dalam hubungan dengan keluarga dan warga.

Hal ini ibarat disebut oleh Imam M Abu Zahrah dalam kitabnya Ushulul Fiqih.

” Islam memberi hak-hak wanita secara prima. Islam jadikan harta wanita otonom secara pemilikan dari harta suami dalam susunan keluarga.”

Beberapa ahli fikih lalu memberi garis yang pasti berkenaan hak pemilikan pada wanita selaku istri. Beberapa istri memiliki hak atas mahar dan nafkah dan diperlakuka secara manusiawi.

Ini disentil oleh Syeikh Wahbah Zuhayli dalam kitabnya Al Fiqhul Islami wa ‘Adillatuh.

” Istri mempunyai hak atas materi berbentuk mahar dan nafkah; dan hak nonmateri berbentuk tindakan yang bagus, hubungan yang membahagiakan, dan keadilan.”

Uang Suami dan Istri

Sedang berkaitan ‘uang suami punya istri, uang istri punya istri’, pernyataan itu tidak seutuhnya betul tetapi tidak juga seutuhnya salah. Pengakuan itu perlu dites terlebih dahulu.

Berkenaan uang suami kemungkinan punya istri, mungkin saja bukan. Uang suami punya istri ialah nafkah yang semestinya diberi.

Sesaat uang suami bukan punya istri yakni di luar kepentingan nafkah. Hingga, bila disebutkan semua uang suami ialah punya istri malahan merebut hak suami atas pendapatannya.

Sedang pernyataan ‘uang istri punya istri’ ialah seutuhnya betul. Sebab, Islam memang jamin hak pemilikan uang pada istri.

Keterangan di atas mengatakan tidak seluruhnya uang suami punya istri tetapi semua uang istri ialah punya istri sendiri. Tapi sebenarnya, sering suami istri mengurus uang secara bersama-sama dan keduanya bisa sama-sama menolong.

Doa Supaya Dijauhkan dari Karakter Kikir

Tiap orang dilahirkan dengan rejekinya semasing. Dengan rejeki itu, ia dapat jalankan kehidupan dan makin dekatkan diri pada Allah.

Memang, rejeki setiap orang berbeda. Ada yang banyak, cukup banyak mereka yang kekurangan.

Akan tetapi, tiap manusia bisa alami keadaan yang berkebalikan dari mulanya. Hingga, seorang disarankan tidak untuk begitu senang atau mengeluhi keadaannya.

Untuk itu, Islam menyarankan tiap orang supaya ingin share. Ini semata-mata untuk menolong mereka yang tidak sanggup supaya bisa bertahan.

Tapi, ada saatnya share sangat terasa susah. Saat kita dirundung karakter kikir, kita terasanya berat membagi harta walau banyaknya cuman sedikit.

Walau sebenarnya, dengan minimal harta itu, bisa saja nasib seseorang tertolong. Bahkan juga terlepas dari kesengsaraan.

Supaya dijauhkan dari karakter kikir, disarankan untuk membaca doa ini.

Doa Terlepas dari Karakter Kikir

Allahumma inni a’udzu bika minal bukhli, wa a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an arudda ila ardzalil ‘umuri, wa a’udzu bika min fitnatid dunya (fitnatid dajjal), wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri.

Artinya: ” Ya Allah, saya berlindung pada-Mu dari karakter kikir, takut, penyakit tua, fitnah dunia yakni fitnah Dajjal, dan hukuman pendam.”