Curhatan Viral Wanita yang Suaminya Menghamili Wanita Lain Demi Memberikannya Anak

Tepatnya 10 tahun lalu aku dan Shawn kehilangan anak perempuan kami. Saat itu Shawn sedang lengah dan tidak memerhatikan ke arah jalan sedangkan aku sibuk melepaskan Sarah dari kursinya karena ia ingin berada di pangkuanku. Lalu kecelakaan naas itu terjadi, aku berada di ICU selama dua minggu sedangkan Shawn mengalami luka cukup parah.

Kami berdua baru dikabarkan kalau Sarah telah tiada ketika keluar dari rumah sakit. Aku dan Shawn sangat terpukul dengan kepergian Sarah, ia masih begitu kecil dan sudah lama kuharapkan. Selama ini aku dan Shawn berusaha untuk mendapatkan anak kembali tetapi hasil yang kami lakukan selalu gagal.

“Aku hanya ingin menjadi seorang ibu lagi” rengekku pada Shawn sambil memeluk boneka kesukaan Sarah. “Kita akan segera memilikinya lagi, aku janji” jawab Shawn. Kehilangan Sarah menjadi hal paling berat dalam hidupku dan aku masih belum bisa berdamai dengan itu. Sampai akhirnya waktu berlalu dengan cepat meski aku masih memiliki setitik harapan untuk kembali memeluk seorang bayi.

Tak pernah disarankan oleh semua dokter yang pernah kukunjungi untuk aku memiliki anak kembali. Mengingat usiaku yang sudah tidak lagi muda sehingga berisiko pada keselamatanku. Suatu hari aku merasakan ada sesuatu hal yang salah dengan Shawn, ia selalu terbangun tengah malam dan pergi keluar kamar cukup lama.

Malam itu aku memutuskan untuk mengikutinya, Shawn pergi ke dapur dan mengambil cukup banyak makanan berat juga camilan kemudian ia berbalik arah menuju ruang bawah tanah. Shawn masuk ke dalam sana dengan cara mengendap-endap, berusaha untuk tidak menciptakan suara sekecil apa pun.

Aku yang mengikutinya secara diam-diam akhirnya terbawa suasana untuk ikut menahan napasku seolah itu bersuara. Di dalam sana Shawn berbicara dengan seseorang sambil menyodorkan beberapa piring berisi makanan. Sayup-sayup aku mendengar suara wanita yang membalas perkataannya.

Tanpa menunda lebih lama, aku masuk ke dalam ruang bawah tanah itu dan menemukan seorang wanita tengah terduduk di atas sebuah kasur. Ruangan gelap itu disulap oleh Shawn menjadi kamar yang cukup nyaman. Terdapat kasur, lampu tidur, sampai dispenser berisi air

Sekilas aku tak melihat ada yang aneh dari wanita itu sampai Shawn sedikit bergeser dan terlihatlah perut besarnya. Mataku membesar dan terkejut mengetahui suamiku tengah menghamili wanita muda yang ia sembunyikan di ruang bawah tanah rumah kami. “Ba..Bagaimana bisa kamu?” ucapku terbata-bata.

Aku merasa sangat terkejut hingga nyaris kehilangan kata-kata. Entah apa yang terjadi sebelum ini semua terjadi tetapi yang aku merasa sangat sakit hati karena telah dikhianati. Melihat aku yang sudah pucat pasi, Shawn berlari ke arahku dan membawa aku kembali ke atas.

Ia merebahkan aku di atas sebuah sofa yang cukup nyaman, “sayang semua ini aku lakukan untukmu, dia akan memberikan anaknya pada kita dan kamu sangat menginginkan itu” ucapnya. Aku yang masih sangat terkejut belum bisa mencerna kalimat Shawn dengan baik dan memilih untuk memejamkan mataku. Malam itu rasanya dadaku sangat sesak dan kepalaku sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum.

Melihatku yang semakin melemah, aku mendengar suara Shawn memanggil namaku dengan nada panik. “Megan..Megan” panggilnya, aku tidak mempedulikan panggilannya dan sibuk menenangkan diriku sendiri. Setelah merasa lebih baik, aku melihat Shawn tidak lagi sebagai pengkhianat.

Aku memang telah lama menantikan untuk kembali menjadi seorang ibu, “jika aku tidak bisa melakukannya, mengapa tidak meminta tolong pada orang lain?” Pikirku. Aku segera mengatur napas dan menenangkan diriku, kupandangi wajah Shawn karena terlalu bingung apa yang seharusnya kulakukan.

Malam itu aku pergi ke ruang bawah tanah “bayi itu butuh hawa yang segar, naiklah kamu akan kuberi tempat tidur yang nyaman” ucapku pada wanita hamil itu. Ragu-ragu ia menatapku hingga akhirnya kuhampiri dia dan kubimbing untuk tinggal di rumahku. Aku mengantarnya ke salah satu kamar yang seharusnya menjadi milik Sarah.

“Siapa nama kamu?” Tanyaku, “Lisa” jawabnya. “Malam ini dan seterusnya kamu tidur di kamar ini ya, jangan lupa besok pagi kita akan sarapan di bawah” ucapku sebelum menutup kamar tidur dan mematikan lampunya. Melihat wajahnya, aku tahu betul ia masih sangat muda dan mungkin akan seumur Sarah jika dia masih hidup.

Aku masih tidak tahu apa yang harus kulakukan dan bagaimana seharusnya aku bersikap, tetapi aku berusaha untuk mengurus wanita muda itu dan bayinya dengan sangat baik. Keesokan paginya, Lisa keluar dari kamarnya dan turun menghampiri kami di ruang makan “sarapan sudah siap” ucapku, “terima kasih” balasnya.

Sejak pagi itu aku mencoba mendekatkan diri pada Lisa, aku tahu betul bagaimana rasanya mengandung dengan banyak pikiran menghantui. Perlahan Lisa mulai terbuka padaku, “aku diusir dan tak punya tempat untuk tinggal, terima kasih sudah mau menerimaku di sini” ucapnya setelah sesi sarapan selesai. Shawn sudah lama pergi ke kantor bahkan sebelum aku menghabiskan sarapanku, rasanya sangat aneh ketika aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan pada suamiku sendiri.

“Tidak masalah, kamu mengandung bayi kami” jawabku dengan santai sambil mulai merapihkan beberapa piring yang berserakan. Sekilas aku melihat wajah Lisa berubah menjadi termenung, “kamu tidak apa-apa?” Tanyaku dan dia hanya menjawabnya dengan satu kali anggukkan disertai senyum.

Aku baru mengetahui kalau ternyata Lisa tak pernah berniat untuk memberikan anaknya padaku. Selama satu bulan ia terlihat sangat terguncang dan saat itulah hari besar itu tiba. Aku membawa Lisa ke rumah sakit dengan mobilku dan ketika ia telah memeluk putrinya “tolong jangan pisahkan aku dengan anakku, aku tidak punya siapa pun selain dia” ucapnya sambil berlinang air mata.

Tak bisa kupungkiri kalau aku mulai menyayangi Lisa, memandangi wajahnya seperti aku melihat Sarah. Aku hanya bisa mengusap kepalanya “kalau begitu setelah semua ini selesai, kita akan kembali ke rumah” ucapku. Wajah Lisa terlihat semakin berkaca-kaca, mungkin sebagian orang akan menganggap aku sangat lemah karena membiarkan kekasih suamiku tinggal bersama.

Namun aku tahu kalau Shawn hanya menggunakan alasan itu untuk menutupi kesalahannya. Lisa hanya dimanfaatkan oleh Shawn dan aku tidak bisa membiarkannya di luar sana dengan bayinya seorang diri. Mengurus bayi Lisa membuat aku dan dia menjadi semakin dekat, kami membicarakan apa pun tanpa lagi rasa canggung.

“Maaf aku tidak tahu kalau Shawn sudah menikah” ucapnya suatu hari, “aku tahu” jawabku. Aku tahu kalau perselingkuhan itu adalah murni kesalahan suamiku. Ia yang bertingkah seolah belum menikah, Lisa hanya menjadi korban dari kelicikkannya.

Kehadiran bayi Lisa tidak membuat Shawn meluluh seperti ia memiliki anaknya sendiri. Ia justru semakin acuh dan sibuk dengan dunianya. Aku tahu kalau permainan itu belum berakhir sepenuhnya, jadi aku memutuskan untuk kembali mengikuti Shawn.

Benar saja, aku melihat dia tengah duduk di sebuah bar bersama dengan dua orang wanita muda. Ia bergaya seolah dia masih sendiri dan memiliki banyak uang. Aku tidak menghampirinya saat itu, tidak juga memaki dalam hati. Hal yang kulakukan hanyalah kembali ke rumah dan mengemas semua barangnya, tak lupa juga untuk memblokir beberapa rekening bersama kami.

Shawn terkejut ketika melihat banyak koper bertumpuk di depan teras rumahku. “Wow, jadi siapa dari kalian yang akan pergi dari sini?” Tanyanya, “istri dan kekasihmu sudah menjadi sahabat sekarang” sahut Lisa, “dan kamu yang akan pergi dari rumahku” tambahku. Wajah Shawn terlihat memucat dan ia memohon padaku untuk memaafkannya.

Namun sayangnya semua sudah terlambat, aku mengajak Lisa masuk ke dalam dan menutup pintuku rapat-rapat. Sejak saat itu Lisa menjadi pengganti Sarah dan aku menjadi ibu yang tidak pernah dimiliki oleh Lisa. Waktu cepat berlalu dan mungkin itulah satu-satunya cara agar aku kembali memiliki seorang anak tanpa mengorbankan nyawaku

Leave a reply "Curhatan Viral Wanita yang Suaminya Menghamili Wanita Lain Demi Memberikannya Anak"

Author: 
author